Monthly Archives: November 2017

EpilogAku

Hujan lambat lambat tidak menghalangi indahnya matahari terbenam. Suara ombak kejauhan seakan paham gemuruh yang hadir di dalam hati Indra.

Indra hanya duduk di pinggir pantai, sesekali kakinya bertemu dengan ombak. Ia merenungi semua hal yang baru saja terjadi, seperti kolase film yang tak putus putus berputar.

Marry yang sudah melihatnya sejak hujan turun deras akhirnya memutuskan untuk menghampirinya.

 

“Lucu ya, padahal lagi hujan tapi sunset tetap terlihat. Semesta tampaknya sedang menghiburmu,” ujar Marry membuka percakapan.

Indra masih tidak bergeming dari tempat duduknya. Menolehpun dia enggan. “Jadi kau yang mengirimnya?” Tanya Indra. “Ya,” jawab Marry singkat.
“Untuk apa? Memberi pelajaran kepadaku?” Indra akhirnya bangkit.
“Aku hanya ingin membantu Greg” air mata mulai mengembang di sudut mata Marry. Mendengar perkataan Marry Indra semakin marah, tapi dia memilih diam dan kembali duduk di singgasananya.

“Pergilah,” ucap Indra lemas.
Akhirnya tangis Marry pecah dalam diam. Dia tahu bahwa Indra berhak marah kepadanya, tapi semua yg ia lakukan hanya untuk kebaikan Indra. “Aku pernah pergi darimu satu kali, tapi aku tidak akan pergi untuk kedua kalinya” jawab Marry.
“Meskipun aku memaksa?”

“Ya,”
“Aku mencintainya Marry”
Aku tahu”
“Demi Tuhan, Aku sangat mencintainya”
“Dibandingkan aku?”
“Aku jauh lebih banyak mencintainya dibandingkan aku mencintaimu. Cintaku padamu usai ketika kau pergi meninggalkan aku”
“Tapi dia juga meninggalkanmu”
“Bukan, aku lah yg meninggalkan dia..”¬†mereka terdiam sesaat.

Suara ombak masih memenuhi senja itu. Langitpun mulai gelap.
“Tahukah kau, disinilah aku melamarnya. Memintanya menjadi istriku dihadapan matahari terbenam,”

“Aku tidak tahu kau seromantis itu” mendengar ucapan Indra Marry terkejut, bahkan Indra tidak pernah melamarnya.
“Tapi dia malah berkata ‘aku sudah menikah’. Saat itu Aku merasa marah, merasa bodoh. Mengapa informasi sepenting itu aku lewatkan. Aku bisa saja mengajaknya pergi meninggalkan suaminya, tapi nampaknya perasaannya tidak sama denganku. Aku terlalu bodoh Marry”

Marry duduk di sebelah Indra, memeluknya  dengan paksa.
“Aku tetap akan menunggumu,” bisik Marry. “Kalau begitu kau lebih bodoh dariku,” jawab Indra datar. “Setidaknya aku tidak akan kehilangan mu, tidak untuk kedua kalinya, ” ucap Marry mantap.

Advertisements