Belajar Reklamasi dari Singapura

Belajar dari Reklamasi Singapura

Semalam entah kenapa kami sekeluarga bisa memilih tontonan Inews, padahal kami hampir gak pernah nonton stasiun tv itu πŸ˜…. Sepertinya alam sedang berusaha untuk mendorong saya lebih tercerahkan menjelang pilkada besok. Memang apa sih yg ditampilkan Inews tadi malam?
“Belajar Reklamasi Singapura melalui perspektif warga asli Singapura”

Hayo jangan berhenti baca sampai sini, lanjutin sampai habis ya πŸ˜ƒ.

Siapa sih yg gak tau Singapura? Negara kecil kaya raya, padahal gak punya sumber daya apa apa. Tapi gimana Singapura bisa Semaju ini? Kita akan belajar dari warga Singapura asli.

Jadi dulunya Singapura itu masih rumah2 tapak model rumah mertua saya sekarang. Mereka kenal dengan sesama tetangga, saling gotong royong. Kalau anak kamu hilang, tetangga sebelah pasti menyahut “Hey anak kamu disini”. Mata pencaharian mereka juga banyak yg menggantungkan hidup sebagai nelayan. Wah lucu ya ternyata dulu Singapura kayaknya seperti kampung pesisir.

Tapi pemerintah Singapura saat itu tampaknya ingin sekali memajukan negaranya (siapa sih yg gak mau negaranya maju?). Mulailah proyek reklamasi. Warga2 mulai digusur, diganti dengan tinggal di apartemen. Struktur sosial mereka berubah, mereka tercerai dari tetangga yg baik hati.

Lalu dasar mungkin orang keturunan Melayu (kayak kita ini) itu agak malas2, daya beli properti rendah, mulailah banyak warga asing berdatangan, membeli properti yg dibangun, dan turut serta memajukan Singapura menjadi seperti sekarang.

Dampaknya apa? Warga asli ini terpinggirkan. Padahal mereka sudah hidup rukun bertahun-tahun lamanya dengan warga pendatang. Yang miris adalah masa depan warga asli Singapura setelah pembangunan besar2an. Saya kutip langsung aja kata katanya ya

“Sekarang nelayan sudah tidak ada. Kalau yang bersekolah tinggi, bisa lah itu kerja di kantor. Tapi kalau yang biasa biasa saja seperti kami ini ya paling jadi tukang bersih-bersih saja”

JLEB. saya menahan tangis. Apakah ini masa depan kita?
Lalu hubungan nya dengan Ahok apa?

Menurut saya jadi atau tidaknya reklamasi di Jakarta, kita sudah beberapa langkah menuju Singapura. Coba lihat Ancol sekarang. Bagus sekali. Pasirnya putih kayak di Bali. Tapi uniknya yang banyak berlalu lalang adalah warga keturunan. Saya pikir wajar saja, wong ada ancol mansion disana. Tapi yang mengusik hati saya kemarin adalah pemandangan nya. Ketika warga asli Indonesia hanya menjadi penjual kopi, tukang bersih-bersih, tukang karcis, melayani warga keturunan asing yang menjadi pemilik apartemen disana. Hati saya rasa nya sakit dan takut. Inikah masa depan kita?

Pemandangan serupa juga bisa kita lihat di Mall Kelapa Gading dan perkantoran di Jakarta sekarang. Mungkin beberapa dari kita cukup beruntung bisa duduk sama tinggi dengan bukan warga keturunan, tapi kebanyakan dari kita belum tentu bisa.

Bukan. Saya tidak memilih Ahok bukan karena dia kafir. Bukan karena dia cina. Karena teman saya juga banyak yg kafir dan cina. Mereka baik sekali kepada saya. Bahkan waktu saya mau menikah dulu beberapa teman cina saya bahkan ada yg memberi pinjaman uang. Salah satu sahabat saya juga menikah dengan orang cina, dan dia baiiik sekali!

Ahok juga punya rekam jejak bagus. Saya tidak bisa menafikan. TJ jadi lebih rapi dan jalurnya banyak. Kali jadi bersih. Ada taman, RPTRA. Pokonya jadi kota yg cantik.

Tapi yg membuat saya tidak memilih Ahok ada lah cara dia yg meminggirkan orang orang terpinggirkan. Masyarakat kampunh akuarium contohnya yg sudah digusur dengan paksa, bahkan PTUN pun memenangkan kasus masyarakat ini karena dianggap penggusuran ini melanggar undang-undang.

Ahok ini berani. Satu ambisi dia adalah utk memajukan Jakarta. Tetapi Jakarta maju ini untuk siapa? Saya mungkin saja bisa membekali anak saya sekolah tinggi supaya dia bisa berdiri sejajar dengan orang asing. Tapi kamu bagaimana? Dan bagaimana jutaan warga asli Indonesia lainnya?

Saya hanya berharap majunya Jakarta itu bisa dirasakan semua nya. Seperti sila kelima “keadilan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia”
Kalau pada akhir nya warga asli terpinggirkan, apa bedanya sekarang dengan jaman Belanda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s