Woman power or woman (less) power?

Kemarin gue membaca ada salah satu quote yang menarik

Woman power. Time-starved-parents. Indulged kids.

Wanita wanita yang bekerja memang cenderung memiliki power lebih di dalam keluarga dibandingkan wanita yang tidak bekerja. Ya secara logika saja, wanita ini setidak tidaknya bisa membeli apa yang dia butuhkan.

Gue sendiri memang saat ini bekerja untuk power itu. Karena jujur gue takut menjadi seorang yg power less. Gue takut untuk menggantungkan hidup kepada orang lain. Yang jadi driver utama gue bekerja adalah “kalo laki gue ngapa2in, gue bisa dengan bebas cabut dan bawa anak gue”.  Sesimple itu memang.

Mindset yg gue dapat itu bukan tanpa latar belakang. Gue sering melihat, bahkan ada orang terdekat gue yang sudah gak tahan dengan pernikahan mereka. Udah saling gak suka. Bahkan si Istri merasa diperlakukan semena mena oleh si suami, yaa belum sampai level kdrt sih. Tapi si Istri tetap memutuskan untuk mempertahankan pernikahannya dengan alasan

Gue mungkin bisa hidup susah, tapi anak anak gue mungkin gak akan bisa

Gue miris lihatnya.

Cerita lain seorang kerabat juga ada. Si suami tukang mabuk dan judi. Si Istri setelah bertahan beberapa tahun, akhirnya memutuskan untuk bercerai. Si Istri pergi membawa anak anaknya pulang ke rumah orang tua nya. Hidup mereka sulit. Tapi mereka masih ada nenek yang bisa selalu membantu mereka.

Kejadian kejadian itu membuat gue takut berumah tangga pada awalnya. Bayangkan, gue gak ada Ibu Bapak lagi, kalau suami gue macem macem gue harus kabur ke mana? Ga mungkin banget gue kabur ke rumah kakak gue, mereka sudah punya hidup masing-masing, atau lebih tepatnya masalah masing masing. Makanya di awal gue memutuskan untuk menikah gue bertekad untuk selalu memiliki penghasilan supaya gue selalu memiliki power. Suami gue setuju, tapi bukan karena alasannya. Dia setuju gue bekerja sebagai ruang aktualisasi diri. Dia tidak mau gue menjadi ibu ibu tukang gosip.

Mengenai alasan gue, dia tidak setuju. Menurut dia dua orang yg menikah pasti ingin tujuan yang sama yaitu bersama sama sampai tua, sampai punya cucu. Berpisah bukanlah inti dari pernikahan.

Seperti biasa, suami gue memang orang yang idealis.

Nah ketika gue ditawarkan posisi yang lebih tinggi, gaji lebih tinggi pula, awalnya gue gelap mata. Pikiran gue “kapan lagi gue dapat posisi kayak begini!” Mulailah gue meresearch perusahaannya. Menurut orang yg bekerja di sana, disana gila kerja. Belum lagi lokasi yg jauh dari rumah. Setidaknya di tempat baru ini gue akan berangkat setengah 6 sampe rumah jam 9. It means I have no time for my little melody 😢.

Kondisi gue yang sekarang aja gue pergi kerja jam 6 pagi, sampe rumah jam 6 sore. Main sama anak sampai jam 8, terus anaknya tidur sampai pagi. Itu artinya gue cuma punya waktu sama anak gue 2 jam saja  per hari sodara sodara!!! Makanya waktu anak gue udah mulai mengenal gue, gue terharu sekali 😢.

Gue jujur merasa tertampar dengan pernyataan di atas. Gue memang saat ini merasa lebih punya power. Yaa setidaknya gue adalah partner suami gue. Tapi gue bener bener merasa kurang waktu dengan anak gue. Bayangkan gue cuma punya waktu 2 jam. Itu pun gue harus berbagi waktu dengan nenek, kakek, nini dan tante. Anak gue ama gue paling lama cuma setengah jam 😢😢😢😢😢. Bayangkan perasaan si ibu baru ini. Galau luar biasa setiap hari hahaha.

Konsekuensi dari hilangnya waktu gue memang gue selalu ingin yg terbaik buat si baby. Ya ujung2nya gue berpikir “gue kerja buat siapa sih? Buat dia kan”. Makanya mulai dari susu diapers mainan baju gue selalu pilih yg memang recomended. Untuk mpasi anak pun gue tiap minggu belanja di supermarket. Sampai si nenek yg kerja di rumah bilang “repot banget buat anak”. IYA! gue memang rela spend lebih buat anak gue. Gue rela gak jajan. Gue gak ke mall. Semuanya buat anak. Dari total pengeluaran dalam sebulan, lebih dari 50% itu untuk anak gue.

Kebayang gak kalau anak gue udah gede nanti gimana? Pasti dia minta apa aja gue kasih.

Makanya soal kerja gak kerja ini kayak makan buah simalakama. Gue kerja salah. Gue gak kerja salah. Dan ketika gue dihadapkan dengan kondisi bahwa gue harus berhenti bekerja, gue bingung banget. Gue takut.

Gue takut uang gue gak cukup. Mungkin lebih tepatnya uang suami gue. Tapi jujur sih gue seperti ingin menguji Tuhan. Gue ingin menjadi the walking prove bahwa memang rezeki itu sudah digariskan. Katanya kan ibu kerja atau tidak pasti rezekinya tetap sama *ngarep*.

Selain uang, gue juga takut power less. Gue takut banget. Gue takut bernasib sama seperti ibu ibu yang gue kenal itu. Tapi di lain sisi gue juga takut gue jadi power less terhadap anak gue. Dengan gue terus bekerja, karir yg semakin naik, pasti tuntutan perusahaan akan jadi lebih banyak lagi. The more I work, the less my time for my baby. Dan gue bisa saja menjadi ibu2 yang memberikan apa saja yang diminta oleh si anak sebagai bayaran rasa bersalahnya, dan ini secara tidak langsung membuat gue power-less terhadap anak gue.

Nah disinilah, akhirnya gue bisa berpikir cerah. Apakah gue mau mendahulukan ego gue dengan menjadi setara terhadap suami gue. Atau gue mau menekan ego gue, berkorban demi anak gue, karena gue gak mau my little melody menjadi ibu atau ayahnya. Karena gue mau Melody lompat melebihi kami berdua.

Tuhan gak kemana kan?
Iya Tuhan selalu ada, karena Dia si pembuat cerita.

So, please take my resignation letter boss! 😊

P.S : tulisan ini bukan untuk debat working mom or stay at home mom yaa. Ini murni cuma curhat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s