Monthly Archives: February 2015

Saya tidak buang sampah sembarangan, kok bisa kebanjiran??

banjir

Nama saya Yaserita Achiro, saya tinggal di Cakung Timur.

Saya selalu membuang sampah di tempat sampah. Bila dalam perjalanan saya mengkonsumsi sesuatu, maka sampahnya akan saya simpan di tas, sampah akan saya buang di tempat sampah yang saya temukan. Tak jarang juga sampah itu saya simpan (kelupaan..), akibatnya seminggu sekali saya harus membongkar tas saya untuk membuang sampah2 yang tidak perlu. Saya bahkan pernah beberapa kali bertengkar dengan sesama pengguna angkot karena saya memaksa mereka untuk membuang sampah pada tempatnya.

Saya tinggal di rumah mertua saya. Ayah & Ibu mertua saya sangat rapih. Begitu juga saudara ibu saya yang rajin bersih-bersih. Kami sekeluarga membuang sampah pada fasilitas yg sudah disediakan oleh RT yaitu gerobak sampah. Sayang dong, sudah bayar tagihan sampah setiap bulan masa gak dipergunakan? Saluran air kami juga sangat bersih. Pernah suatu kali ketua RT memaksa masuk ke rumah untuk memastikan saluran air. Dia tercengang, ternyata kami sangat menjaga kebersihan lingkungan kami.

Seharusnya, berdasarkan gambar di atas, kami tidak mungkin kebanjiran. Wong kami sangat taat kok terhadap kebersihan. Tapi kenyataan berbicara lain. Tanggal 9 Februari 2015 kemarin rumah mertua saya tetap kebanjiran. Alhamdulillah tidak separah rekan-rekan yg ada di kelapa gading atau bahkan kampung melayu. Banjir di depan rumah sekitar 50 cm, banjir di dalam rumah sekitar 15 cm. Banjir baru surut tanggal 10 Februari 2015 malam.

Saya yang seumur hidup tidak pernah kebanjiran bertanya-tanya, kok bisa ya?

Daerah mertua saya sudah kebanjiran kurang lebih 5 kali, dimana 3 diantaranya masuk ke dalam rumah. Banjir kali ini adalah yang terparah. Di belakang pemukiman ini dulunya adalah sawah membentang luas dan sedikit pemukiman. Namun mulai tahun 2009 sawah seluas 270 hektar itu disulap menjadi kawasan perumahan.

Bayangkan, berapa banyak air yang bisa diserap oleh 270 hektar sawah! Air hujan yang tidak terserap itu kemudian berhasil menggenangi daerah kami. Jadi sangat wajar kami yang sangat menjaga kebersihan ini menjadi kebanjiran.

Tulisan ini hanya sekedar uneg-uneg saya kepada rekan-rekan yang TIDAK KEBANJIRAN, untuk GAK USAH BELAGU ATAUPUN SOK TAHU!

Banjir itu multifaktorial Jendral!

Penyebab utama banjir Jakarta adalah minimnya resapan air. Coba lihat betapa bersihnya kelapa gading, kok bisa ya dia kebanjiran? Karena kelapa gading itu dulu fungsinya adalah DAERAH RESAPAN AIR. Kelapa gading tahun 80 an adalah belantara sawah & rawa. Coba lihat sekarang, daerah itu disulap menjadi pemukiman padat. Jadi wajar kalau mereka kebanjiran??

Jakarta sendiri saat ini daerah resapan airnya hanya 9.8% padahal kondisi ideal resapan air seharusnya adalah 30%.

Salah siapa?

Salah pemerintah yang jaman dulu (mungkin yang sekarang) yang SANGAT SERAKAH!

Idealnya sebelum dilakukan pembangunan perlu dibuat studi kelayakan & pengaruh terhadap lingkungan, baru kemudian diberikan rujukan, apakah DAERAH INI BISA DIJADIKAN PEMUKIMAN? Apakah ANCOL MANSION LAYAK UNTUK DIJADIKAN PEMUKIMAN? APAKAH JGC LAYAK DIJADIKAN PEMUKIMAN? APAKAH KELAPA GADING LAYAK DIJADIKAN PEMUKIMAN? BILA KEBANJIRAN, SOLUSINYA APA? PERLU DIBUAT APA?

So, banjir itu bukan cuma sekedar buang sampah sembarangan duhai kawan. Get out from your small mind, DON’T GET LOST! Buang sampah iya salah satu faktornya, begitu juga curah hujan, begitu juga bantaran kali yang menjadi pemukiman. Tapi apakah kontribusi terbesarnya adalah faktor2 tersebut? Ask yourself.

If you’re smart enough to judge us, you SHOULD BE SMART ENOUGH to find the answer.

FROM LIPI

http://u.lipi.go.id/1390466708

Advertisements

Being a woman is hard.

Waktu gue belom punya pacar dibilangin gak bisa ngerawat diri, jelek, gendut, dekil, kumel makanya gak ada yang mau.

Giliran udah punya pacar dibilangin zina, gak sayang diri, mau mauan aja pacaran dimanfaatin cowok. Pacaran kelamaan dituduh macem2. Gendutan pas pacaran dituduh hamil. Disuruh cepetan kawin. Emangnya duit turun dari langit?

Pas udah kawin, kirain semua judgement nya selesai sampe situ, eh enggak loh! Sebulan kawin adem. Dua bulan kawin agak rese. Tiga bulan kawin “belom isi juga?”
Kayaknya kalo perempuan gak langsung hamil abis kawin itu dosa bgt ya.

Susah jadi perempuan ya.
Atau memang jadi bagian masyarakat itu susah?