Nanti…

“Aku ke luar kota mulai bulan depan,”

Gue gak tau bagaimana mendeskripsikan perasaan gue begitu denger ucapan dari dia. Padahal baru 1 bulan lebih gue memulai hidup baru gue, tapi “uang” akan memisahkan gue dan suami gue. Yes, uang.

Menjelang pernikahan gue, Fajar dapet panggilan dari salah satu perusahaan besar dari Jepang. Posisi yang ditawarkan adalah posisi yg dia impikan. Pada proses pertama, Fajar sudah diinfokan bahwa dia akan ditempatkan ke seluruh Indonesia. Dia sempet tanya sama gue soal hal itu. Gue menjawab enteng, “lanjut aja, kita liat aja nanti.”

H-1 pernikahan kita, fajar proses psikotes. Gue masih cuek. Waktu itu gue berpikir “ah masih jauh lah, belum tentu juga dapet.” Surprisingly, waktu kita lagi honeymoon, dia dapat panggilan untuk Medical Check Up. Gue mulai ketar ketir. Tapi karena dia info ke gue pindahnya setelah 3 bulan training di Jakarta, gue agak tenang. At least, gue masih punya waktu 3 bulan utk prepare atau cari2 kerjaan di tempat dia nantinya.

Setelah offering dateng, ternyata bayarannya gak sebesar tempat Fajar sekarang. Sisi egois gue pengen bilang “udaah jangan diambil! Masa kamu cuma dihargai segitu!” Tapi gue takut, takut kesempatan ini gak akan dateng lagi. Kalau gue inget ke belakang, besar banget pengorbanan dia buat gue. Dia gak lanjut apoteker mungkin juga karena gue. Gue gak mau jadi orang jahat kedua kalinya. Lagian, gue masih kerja, harusnya cukup. Disitu gue mulai galau, apa gue mau ikut dia apa enggak.

Pelan2 pikiran gue berubah, gue mulai berpikir “oke gak akan cukup uangnya nih kalau gue ikut” jadi gue udah agak memutuskan untuk gak ikut dulu. Yaah setahun atau dua tahun lah.

Selama gue menjalani hidup sebagai istrinya Fajar, gue seneng banget. Biarpun gue bangun pagi2 buta masakin makan siang buat dia. Biarpun gue masak pulang kantor atau sabtu minggu. Biarpun gue capek, tapi gue bahagia. Tiap malem kita pillow talk, main line get rich bareng, gosipin orang, sampai omongin materi yg berat2. My life is complete with him.

Dan pagi tadi kesenangan itu berhenti sesaat. Ibarat lagi nonton film romantis, lalu mati lampu. Gue mau masak kepikiran “nanti gue masak buat siapa?” gue mau beli deodoran dia kepikiran “nanti beli deodoran buat siapa?”
“Nanti berangkat ke kantor sama siapa”
“Nanti yg peluk gue malem2 siapa”
“Nanti yg nemenin gue tidur siapa”
“Nanti yg ngehibur gue siapa”
“Nanti yg makein gue mikrolax siapa”
Nanti gue harus gimana

“Emang kapan kamu mulai ke luar kotanya?” gue tanya dia. “Hari minggu aku mulai berangkat”
“Ditempatin di kota mana? Berapa lama?”
“Belum tau, mungkin hari ini diumumin”
“Yaudah kita jalanin aja dulu, kalau memang gak memungkinkan kita pikirin lagi nanti” ucap gue mengakhiri pembicaraan. “Maaf ya sayang” ucap Fajar sambil memeluk gue.

Gue sebetulnya mau marah, kenapa sih cepet banget!!!! Gue kan harus cari kerjaan baru!! Sekarang mau cari kerjaan juga bingung mau cari dimana. Kalau gue gak kerja, nanti gue ama dia gimana. Gue gak tau harus gimana sekarang. Gue cuma bisa nangis dan komplain lewat blog ini.

Sebagian diri gue mau mencegah dia pergi, tapi harusnya gue sadar dengan konsekuensi ini dari awal. Sebagian diri gue mau maksa gue untuk resign dan ikut dia, tapi gue takut. Nanti setelah gue resign, gue mau ngapain?! Trus untuk nutup kehidupan sehari hari gue harus gimana?!

Damn!!!
Gue dikalahkan oleh uang. Gue dipisahkan dengan suami gue oleh uang.

Tapi sebagian kecil, kecil sekali, di dalam diri gue berkata “pernahkah Tuhan menguji diluar kemampuan kamu?”

Tidak pernah.

Tuhan, kali ini kupasrahkan ceritaku kepadamu. Tuliskanlah satu lagi cerita yang indah untuk ku.

image

Advertisements

One thought on “Nanti…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s