Monthly Archives: November 2014

Nanti…

“Aku ke luar kota mulai bulan depan,”

Gue gak tau bagaimana mendeskripsikan perasaan gue begitu denger ucapan dari dia. Padahal baru 1 bulan lebih gue memulai hidup baru gue, tapi “uang” akan memisahkan gue dan suami gue. Yes, uang.

Menjelang pernikahan gue, Fajar dapet panggilan dari salah satu perusahaan besar dari Jepang. Posisi yang ditawarkan adalah posisi yg dia impikan. Pada proses pertama, Fajar sudah diinfokan bahwa dia akan ditempatkan ke seluruh Indonesia. Dia sempet tanya sama gue soal hal itu. Gue menjawab enteng, “lanjut aja, kita liat aja nanti.”

H-1 pernikahan kita, fajar proses psikotes. Gue masih cuek. Waktu itu gue berpikir “ah masih jauh lah, belum tentu juga dapet.” Surprisingly, waktu kita lagi honeymoon, dia dapat panggilan untuk Medical Check Up. Gue mulai ketar ketir. Tapi karena dia info ke gue pindahnya setelah 3 bulan training di Jakarta, gue agak tenang. At least, gue masih punya waktu 3 bulan utk prepare atau cari2 kerjaan di tempat dia nantinya.

Setelah offering dateng, ternyata bayarannya gak sebesar tempat Fajar sekarang. Sisi egois gue pengen bilang “udaah jangan diambil! Masa kamu cuma dihargai segitu!” Tapi gue takut, takut kesempatan ini gak akan dateng lagi. Kalau gue inget ke belakang, besar banget pengorbanan dia buat gue. Dia gak lanjut apoteker mungkin juga karena gue. Gue gak mau jadi orang jahat kedua kalinya. Lagian, gue masih kerja, harusnya cukup. Disitu gue mulai galau, apa gue mau ikut dia apa enggak.

Pelan2 pikiran gue berubah, gue mulai berpikir “oke gak akan cukup uangnya nih kalau gue ikut” jadi gue udah agak memutuskan untuk gak ikut dulu. Yaah setahun atau dua tahun lah.

Selama gue menjalani hidup sebagai istrinya Fajar, gue seneng banget. Biarpun gue bangun pagi2 buta masakin makan siang buat dia. Biarpun gue masak pulang kantor atau sabtu minggu. Biarpun gue capek, tapi gue bahagia. Tiap malem kita pillow talk, main line get rich bareng, gosipin orang, sampai omongin materi yg berat2. My life is complete with him.

Dan pagi tadi kesenangan itu berhenti sesaat. Ibarat lagi nonton film romantis, lalu mati lampu. Gue mau masak kepikiran “nanti gue masak buat siapa?” gue mau beli deodoran dia kepikiran “nanti beli deodoran buat siapa?”
“Nanti berangkat ke kantor sama siapa”
“Nanti yg peluk gue malem2 siapa”
“Nanti yg nemenin gue tidur siapa”
“Nanti yg ngehibur gue siapa”
“Nanti yg makein gue mikrolax siapa”
Nanti gue harus gimana

“Emang kapan kamu mulai ke luar kotanya?” gue tanya dia. “Hari minggu aku mulai berangkat”
“Ditempatin di kota mana? Berapa lama?”
“Belum tau, mungkin hari ini diumumin”
“Yaudah kita jalanin aja dulu, kalau memang gak memungkinkan kita pikirin lagi nanti” ucap gue mengakhiri pembicaraan. “Maaf ya sayang” ucap Fajar sambil memeluk gue.

Gue sebetulnya mau marah, kenapa sih cepet banget!!!! Gue kan harus cari kerjaan baru!! Sekarang mau cari kerjaan juga bingung mau cari dimana. Kalau gue gak kerja, nanti gue ama dia gimana. Gue gak tau harus gimana sekarang. Gue cuma bisa nangis dan komplain lewat blog ini.

Sebagian diri gue mau mencegah dia pergi, tapi harusnya gue sadar dengan konsekuensi ini dari awal. Sebagian diri gue mau maksa gue untuk resign dan ikut dia, tapi gue takut. Nanti setelah gue resign, gue mau ngapain?! Trus untuk nutup kehidupan sehari hari gue harus gimana?!

Damn!!!
Gue dikalahkan oleh uang. Gue dipisahkan dengan suami gue oleh uang.

Tapi sebagian kecil, kecil sekali, di dalam diri gue berkata “pernahkah Tuhan menguji diluar kemampuan kamu?”

Tidak pernah.

Tuhan, kali ini kupasrahkan ceritaku kepadamu. Tuliskanlah satu lagi cerita yang indah untuk ku.

image

Advertisements

What Katniss Everdeen Taught Me on Mockingjay

Walaupun agak kecewa dengan film Mockingjay karena masih jauh dari bukunya, gue merasa belajar cukup banyak disitu. Gue merasa bahwa apa yg terjadi di Mockingjay itu seperti apa yg terjadi di Indonesia.

Ada 2 kekuatan, yang sebenernya kita gak tau yg salah yg mana.

Di satu sisi Capitol mungkin salah karena telah membuat rakyat2 di Panem menderita, memaksa mereka bekerja & memberikan bagian yang sangat sedikit untuk mereka. Tapi dengan adanya kontrol dari Capitol, Panem itu tentram. Gejolak2 di masyarakat bisa diatasi, tidak ada perang saudara. Sementara orang2 dari District 13 yang di film itu dikesankan adalah orang2 tertindas dan mengerahkan perlawanan untuk menuntut keadilan bagi district mereka, di mata gue belum tentu mereka itu sepenuhnya benar.

Kedamaian adalah harga yang sangat mahal. Kedamaian hanya bisa dibayar oleh nyawa. Iya nyawa.

Inget jaman Pak Harto yang katanya dimana setiap kali ada orang melakukan perlawanan pasti besoknya orang itu ilang. Tapi di jaman itu, walaupun katanya kita gak bebas, setidaknya ada keadilan disitu. Jurang antara kaya dan miskin ga sebesar sekarang. Mungkin sekarang ekonomi kita tumbuh pesat, tapi apa yang kita punya semu. Ibarat gaji, tanggal 25 gajian, tanggal 26 habis.

Back to Mockingjay.

Mungkin apa yg dituntut oleh District 13 itu benar, tapi bayangkan, ketika District 13 akhirnya bisa memenangkan perang, apakah keadaan pasti akan berubah? Atau District 13 hanya akan menjadi another Capitol District?? Bayangkan berapa harga yang harus dibayar District lainnya demi memperoleh pemimpin baru mereka yang sebetulnya belum tentu berbeda dari sebelumnya.

Sometimes, fight is not an option. In order to keep peace, you must make peace first. Let things that should happen, happened. Leave our future children more beautiful & less hatred world. I’d rather be fool to be wise than be an injured-bright.

Jonru perlu dibaca?

Malam menjelang tidur, gue & Fajar biasanya selalu punya waktu untuk semacam pillow talk. Malam tadi temanya adalah JOKOWI.

“Aku suka deh baca-baca JONRU. Kayak matanya lagi dibuka gitu,” kata si Fajar membuka pembicaraan. Gue nengok & senyum, “ Aku gak suka Jokowi, tapi aku gak baca JONRU”

Fajar bingung, “biasanya yg gak suka Jokowi suka baca Jonru, kok kamu enggak?”

Dengan panjang lebar gue menjawab, “Ya karena Jonru cuma bikin aku tambah benci sama Jokowi. Terus kalau aku udah benci sama Jokowi aku mesti ngapain? Baca Jonru bikin aku tambah gak tenang, bikin aku tambah marah, sama kayak aku baca triomacan. Tapi ya setelah aku baca fakta fakta itu aku bisa apa? Cuma bisa marah doang. Jadi aku berhenti baca macem2 begitu. Gak ada gunanya. Mending aku main line get rich..”

This is happy face

image

Gue pernah ragu untuk punya anak. Gue takut kebebasan gue akan diambil oleh hadirnya anak. Tapi sekarang, I’m looking forward to become a mom!!!!

And those are my happy face!
Katanya sih ciri2 hamil udah ada, tapi masih belum bs pake tespek.

Aaaahh pokoknya aku ingin hamil!!!
Doakan yah!