Things that happened after Would You Marry Me

Setelah maju-mundur rencana pernikahan kami, akhirnya pun kami memutuskan untuk menikah juga. Keputusan itu dimulai di bulan Januari dimana Fajar berkomitmen untuk melamar gue bulan Mei 2014. Fajar saat itu masih bekerja di perusahaan kecil yang menjual alat kesehatan. Saking kecilnya, administrasi mendasar seperti  tanda tangan kontrak & slip gaji saja tidak ada. Di bulan Februari, Fajar sudah menunjukan tanda-tanda tidak betah. Dia tidak sevisi dengan perusahaannya. Hingga pada akhir bulan Maret Fajar memutuskan untuk resign.

Ini jelas pukulan telak bagi gue. Saat kita sedang persiapan pernikahan, which is membutuhkan dana yang besar, Fajar malah resign. Gue sudah mulai mengitung2 kebutuhan dana, gue stress berat. Uang yang gue punya hanya 20% dari total dana pernikahan.

Dari kepusingan tersebut, ‘bantuan dari Allah’ datang. Alhamdulillah, keluarga Fajar bisa memberikan 40% biaya pernikahan. Masih ada sisa 40% lagi. Selama perencanaan itu Gue & fajar seringkali bertengkar akibat kekurangan dana tersebut. Gue bahkan sebelum proses pencetakan undangan memberikan opsi, “apa kita tunda aja ya ke tahun depan? Seenggaknya aku bisa punya saving lebih banyak”. Fajar menolak, dengan tegas dia berkata, “kita terusin aja, Insya Alloh ada jalannya…”

Sifat positif Fajar kadang bikin gue kesel. Sering gue marah2 bilang “kamu yang realistis dong!” tapi untungnya dia tetap sabar. Gue mengikuti saja kemana calon suami gue ini membawa gue. Alhamdulillah, setelah proses lamaran, Fajar mendapatkan pekerjaan baru. Ini cukup membuat tenang, karena setidaknya bisa ada tambahan dana dari simpanan Fajar.

Mendekati hari H, kakak gue memberikan suntikan dana 10%. Dana segar banget buat gue & Fajar yang udah mumet. Makasih banyak Uda. Satu per satu dana pun masuk ke rekening gue dari kakak2 gue. Meski belum cukup, gue bersyukur banget bisa mendapatkan bantuan tersebut. Gue mulai mengimani bahwa rezeki untuk penganten itu pasti ada. Namun demikian gue & Fajar tetep aja stress. Hasil psikotes gue & dia menyebutkan bahwa gue mengalami stress ringan sementara Fajar mengalami stress berat hahaha.

Walaupun Fajar bisa kasih tambahan dana yang lumayan gede, Entah gimana caranya H-7 uang itu masih kurang aja.  Gue bahkan sampai marah sama Tuhan. Pernah dalam doa gue menuntut “Ya Tuhan, hamba kan mau menunaikan perintah-Mu, kenapa Engkau tidak mau membantu hamba!!!” Doa gue pun keesokan harinya dijawab oleh Tuhan dengan cantik. Kekurangan pembayaran salon bisa dibayarkan setelah acara. Dengan begitu gue masih punya tenggat waktu untuk cari pinjeman lain. Perasaan gue saat mengetahui itu campur aduk. Gue nangis sejadi-jadinya dan minta maaf sama Tuhan atas prasangka yg buruk itu. Malamnya gue berdoa “Tuhan untuk pernikahan ini, hamba pasrahkan semuanya kepada-Mu”. Alhamdulillah keesokannya, bantuan lagi datang. Kakak gue bisa memberikan bantuan dana untuk pengajian. Asli, itu H-7 gue nangis aja tiap hari, gue juga sampe muntah-muntah gara-gara saking stressnya. Bahkan gue masih sibuk cari-cari pinjaman ke sana kemari sampai H-1! Hahahaha…

Temen-temen gue nanyain “gimana deg degan ga?” gue cuma bisa senyum2 aja. Iye gue deg degan, bukan deg degan gara2 acaranya, tapi deg degan gara-gara kepikiran ini duitnya masih kuraaang!!! Tapi, Alhamdulillah akhirnya H-1, jam 18.30 dana untuk acara sudah terkumpul!! Dalam hati gue berteriak “God you’re the best!!!”

Selama proses persiapan pernikahan gue memahami makna dibalik “Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya diluar kemampuannya”.  Gue percaya bahwa rezeki itu selalu datang pas jumlahnya, pas waktunya. Rezeki itu tidak akan pernah kurang & tidak akan pernah lebih. Rezeki itu selalu sesuai dengan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita minta.

H+13 pasca pernikahan, Fajar mendapatkan pekerjaan baru. Pekerjaan yang dia impi-impikan dari perusahaan asing yang cukup besar. Jadi terbukti sudah bahwa pernikahan bisa membuka pintu rezeki kita. Katanya “Tuhan itu sesuai prasangka hamba-Nya”. Sejak moment H-7 sebelum menikah itu hingga sekarang gue selalu berprasangka baik dengan Tuhan. Gue percaya bahwa Tuhan adalah sebaik-baik pembuat skenario. Walaupun skenarionya sedih & menyakitkan, sejatinya skenario itu menguatkan kita.

Jadi untuk yang masih ragu menikah karena takut gak ada uang, takut belum punya pekerjaan, takut nanti tidak bisa menafkahi keluarganya, buang jauh-jauh ketakutannya. Now go! Get your girl and say “Would you marry me?” then see how God works the scenario for you! Good luck!! 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s