How I Met Your Father (1)

Semuanya berawal dari 5 tahun lalu. Saya bertemu dengan laki-laki ini. Dia tampan, berwibawa, karismatik. Saya sungguh tergila-gila kepada lelaki itu. Bagaimana dia bersikap baik kepada saya, bagaimana perhatiannya kepada saya. Semuanya yang ada pada diri dia, satu paket, membuat saya merasa yakin bahwa dia adalah orang yang dipilihkan untuk saya.

Hari demi hari berlalu. Komunikasi kami semakin intens. Hingga suatu saat, semuanya tiba-tiba berhenti. Dia tampak tidak tertarik lagi kepada saya. Dia menghindari saya. Saya putus asa. Semuanya bahkan berhenti sebelum sesuatu itu dimulai. Saya bertanya-tanya, apa yang terjadi? Apa yang sudah saya lakukan? Jawabannya Ā sederhana. Saya salah membaca sinyal. Dia tidak tertarik kepada saya. Dia hanya baik kepada saya, sama seperti dia baik pada perempuan-perempuan lainnya.

Saya melalui patah hati itu agak berlebihan. Saya mulai membatasi makanan saya. Seringkali saya hanya minum susu sepanjang hari. Saya terobsesi menjadi wanita yg dia sukai. Demi mendistraksi perasaan saya, saya mulai berkonsentrasi pada project yang saya lakukan. Saya mulai belajar dengan baik ( Ipk SP saya 4.0 hehe). Saya juga bertemu dengan teman teman lama. Berkumpul dengan teman teman SMA, juga dengan teman teman SMP. Ternyata cukup mudah melewati patah hati itu.

Hubungan saya dengan teman2 lama semakin dekat. Ditambah lagi, saya baru beli HP canggih. Saya juga baru aktif di facebook. Dari facebook, saya mulai akrab dengan teman SMP saya. Gak bisa dibilang teman sih, karena kami gak pernah dekat sebetulnya. Interaksi terdekat kami justru waktu SD, dimana kami berdua sama-sama mengikuti lomba pidato. Yah di lomba itu saya kalah, dan tampaknya dia sangat senang saat saya kalah. Kenangan yg cukup buruk. Tapi ketika saya mulai mengenal kembali orang ini, saya merasa dia menarik.

Secara fisik, dia tidak semenarik lelaki yg mematahkan hati saya. Dia tinggi,.besar. Ekspresi pertama saya ketika melihat dia “gila lo gede banget!!” . Saya cukup takjub karena memori terakhir saya merekam bahwa dia lebih pendek dari saya!! Tapi dia baik. Walapun dia cerewet. Dia bawel. Status facebooknya alay. Karena rumah dia berdekatan dengan saya, saya suka nebeng sama dia ke kosan. Haha bakat nebeng sudah ada sejak dini.

Percakapan di motor selalu menarik. Saya selalu tertawa dengan lelucon2 dia. Meskipun dia tidak karismatik, tidak misterius, tapi dia menarik! Saya menangkap sinyal bahwa sepertinya dia suka kepada saya. Tapi saya tidak mau gegabah. Saya tidak mau sakit hati lagi karena salah membaca sinyal. Selain itu membayangkan dia dan saya menjalin hubungan itu kok rasanya ganjil yah. Ada yang aneh. Haha. Entahlah, mungkin karena saya belum bisa melupakan laki-laki yang pernah membuat saya patah hati.

“Jika cinta dia, jujurlah padaku”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s